" Menulis dan Membaca adalah Hal Yang Luar Biasa"

Sunday, January 5, 2020

BELAJAR MENULIS ARTIKEL ILMIAH

Tulisan Ilmiah Populer adalah tulisan Ilmiah yang dipublikasikan di media massa ( Koran, Majalah, atau sejenisnya,

Tulisan Ilmiah Populer dalam kaitan dengan upaya pengembangan profesi guru merupakan tulisan yang lebih banyak mengandung isi pengetahuan, berupa ide, atau gagasan pengalaman penulis yang menyangkut bidangnya.

Kerangka isi tulisan ilmiah populer disesuaikan dengan persyaratan atau kelaziman dari media massa yang akan mempublikasikan tulisan tersebut.

Dalam teori jurnalistik, produk media massa terbagi menjadi 3 bagian :
  1. Berita ( news )
  2. Opini ( view )
  3. Iklan ( Advertising )
Berita ditulis berdasarkan situasi atau peristiwa yang apa adanya berdasarkan fakta.
Setiap fakta berarti harus objektif

Opini yaitu pandanngan penulis, maka apapun yang ada dalam views bersifat subjektif, begitu juga dengan feature.

Sedangkan, iklan merupakan penawaran suatu produk atau jasa kepada masyarakat dengan ragam bahasa lebih memikat. Biasanya iklan komersial, sosial dan keluarga.

Karakter Artikel :
  1. Logis : segala keterangan yang dipaparkan
  2. Lugas : tulisan langsung menuju persoalan
  3. Harus memiliki dasar dan alasan yang masuk akal dan dapat diuji kebenarannya
  4. Tuntas : masalah atau tema yang dipilih dipaparkan secara mendalam dan tidak menggantung
  5. Objektif : keterangan yang disajikan sesuai dengan data dan fakta yang ada
  6. Cermat : berusaha menghindari berbagai kekeliruan walau sekecil apapun
  7. Jelas dan Padat : keterangan mudah dipahami.
  8. Tidak melibatkan emosi yang berlebihan
  9. Menggunakan bahasa baku dan memperhatikan tanda baca 
Ciri - ciri Artikel :
  • Ditulis berdasarakn pandangan penulis
  • Mengandung gagasan aktual
  • Intelektual
  • Orisinalitas
  • Mengungkapkan suatu masalah dan memberikan solusinya
  • Singkat, padat dan tuntas
  • Bahasa sederhana, jelas, hidup, menarik, dan komunikatif
  • Menyangkut kepentingan publik
  • Ditulis dengan atas nama ( by line story ) 


Qiusioner Merdeka Belajar

Friday, January 3, 2020

RPP MERDEKA BELAJAR

RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dibuat untuk tujuan sebgai alat bantu guru dalam mengajar. Bahkan ketika guru tersebut tidak masuk, guru lain dapat menggantikan guru yang bersangkutan untuk memberikan materi. RPP dibuat sangat spesifik, mulai dari kompetensi dasar,  tujuan pembelajaran, langkah - langkah pembelajaran, materi, hingga soal dan rubrik penilaian.
Satu Kompetensi Dasar biasanya bisa mencapai 5 hingga 20 lembar halaman, apalagi mata pelajaran - mata pelajaran yang materinya cukup banyak. Pertanyaannya....apakah ini efektif ?

Belum lagi peralihan dari KTSP ke Kurikulum 13, ada banyak lagi tambahan menu yang harus dibuat dalam satu RPP. Kira-kira, apakah RPP itu berpengaruh besar kepada siswa atau hanya sebagai syarat administrasi guru. Untuk syarat akredditasi misalnya, atau bukti fisik MONEV oleh pengawas. Karena fakta dilapangan , yang terjadi adalah penyimpangan dari RPP tersebut di dalam kelas.

Pembelajaran sangat kaku dan bersifat berpusat pada guru. Siswa tidak banyak diberi kesempatan untuk menentukan minat dan cara belajar yang mereka inginkan. Metode ceramah atau diskusi kadang dianggap kurang efektif. Siswa akan lebih tertarik ketika belajar sambil bermain , atau sambil membuat sebuah karya. 

Diajak belajar diluar kelas, atau menggunakan berbagai video pembelajaran adalah metode yang sangat menyenangkan. Atau bisa juga dengan menggunkaan permainan - permainan yang bisa memudahkan guru dan menstranfer materi.

Sebelum membuat RPP, ada alat bantu berupa Kanvas Merdeka Belajar. Di dalam Kanvas Merdeka Belajar itu sendiri terdapat berbagai menu yang ditunjukkan untuk mengetahui kondisi siswa. Minat, Latar Belakang Keluarga, sampai dengan Profil siswa harus kita ketahui terlebih dahulu.
Bisa jadi pembelajaran di kelas menjadi gagal karena kita kurang memahami murid kita sendiri.




Wednesday, January 1, 2020

LITERASI MENGGERAKKAN NEGERI

Mengapa Indonesia dan sebagian besar bangsa yang baru merdeka lainnya mengembangkan program pemberantasan buta huruf atau pengajaran calistung?

Bayangkan Anda menjadi pimpinan sebuah negara yang 100% warganya masih buta huruf. Bagaimana Anda menyampaikan pesan Anda pada jutaan warga negara yang berada di berbagai daerah? Tidak ada jalan, Anda harus bicara kepada semua warga negara. Bila hanya pada sebagian warga negara, pesan Anda akan menyebar seperti gosip.

Jangankan sebuah negara. Dalam pelatihan, pesan yang disampaikan pada orang paling depan lalu orang tersebut menyampaikan ke orang di belakangnya hingga orang terakhir di suatu barisan. Apa pesan yang dipahami oleh orang di barisan paling belakang? Sama sekali berbeda dengan pesan yang disampaikan di awal. Ada distorsi, ada generalisasi, ada hiperbola, ada dramatisasi. Kalai rantai informasi pada satu baris bisa kacau seperti itu, lalu bagaimana bila terjadi pada suatu negara? Kekacauan!

Itulah mengapa calistung menjadi program prioritas pada kebanyakan bangsa yang baru merdeka. Calistung pada masanya adalah mesin penggerak kehidupan sebuah bangsa, mesin konsumsi dan produksi pengetahuan. Kemampuan calistung membuat orang per orang tidak tergantung sepenuhnya pada komunikasi lisan. Calistung membuat orang bisa membaca panduan, brosur, petunjuk dan buku untuk menjalankan mesin, mengoperasikan birokrasi, atau menjalani kehidupan. Calistung membuat orang bisa menuliskan pikirannya, menuangkan pengalamannya dan menggambarkan impiannya untuk disampaikan pada banyak orang. Calistung membuat orang berpikir sistematis, pasar bekerja, pengerjaan bangunan menjadi simetris, penataan kebun menjadi rapi dan desain peralatan menjadi presisi.

Calistung adalah bentuk awal literasi yang menggerakkan kehidupan negeri!
Tapi kehidupan tidak semudah dan seindah cerita pengantar tidur. Belajar calistung bergerak cepat tapi dihentikan ketika akan memasuki tahap calistung untuk belajar, calistung untuk mengubah kehidupan. Sistem pendidikan mempersempit calistung sebatas sebagai aktivitas konsumsi belaka, calistung untuk mengkonsumsi pengetahuan, tapi tidak bergerak menjadi calistung untuk memproduksi pengetahuan. Orang kehilangan arti penting calistung. Belajar calistung jadi kegiatan di sekolah, lebih tepatnya kegiatan anak pada kelas kecil. Calistung menjadi kegiatan wajib yang membosankan dan kering makna. Pada tingkat global, pendidikan membaca kritis ala Paulo Freire diubah menjadi pengajaran membaca yang mekanis.

Sampai sekitar 2 dekade yang lalu, kita mulai memasuki suatu zaman yang memperkenalkan istilah literasi. Lahir kesadaran arti penting literasi dalam kehidupan berbangsa. Kita telah berjalan sebagai negara merdeka lebih dari 70 tahun, tapi tantangan yang kita hadapi tetaplah sama: miskonsepsi literasi. Literasi sebagai tujuan, cara dan kegiatan direduksi sebagai kegiatan membaca. Murid diminta aktif membaca di awal pelajaran, tapi tidak mendapat tantangan yang memadai untuk menggali, memikirkan dan mengemukakan pendapat. Literasi menjadi calistung yang penting pada kelas kecil, sembari lupa bahwa literasi penting dan berguna pada semua tahapan belajar, bahkan bagi pendidikan doktor.

Inilah ajakan bagi guru yang merdeka belajar untuk melek literasi tentang makna literasi itu sendiri.
Pada Temu Pendidik Nusantara 2018 dideklarasikan topik untuk TPN tahun mendatang yaitu Literasi untuk Menggerakkan Negeri. Bukan hanya paham atau mempraktikkan literasi, tapi menggagas literasi yang bisa menggerakkan perubahan di negeri ini. Kita akan membahas literasi mulai Januari ini hingga puncaknya pada Oktober 2019 pada saat Temu Pendidik Nusantara 2019. Sebuah undangan yang menantang bagi guru belajar kan?

Saya mengundang segenap penggerak dan anggota Komunitas Guru Belajar untuk bercerita tentang literasi. Pada Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Sekolah, Temu Pendidik Daerah, dan Temu Pendidik Regional. Pastikan Anda terlibat percakapan mengenai literasi pada lingkup terdekat sebagai bekal yang akan kita ceritakan pada perjumpaan kita di Temu Pendidik Nusantara 2019. Nanti kita cerita tentang literasi dari berbagai penjuru nusantara.
Pada Surat Kabar Guru Belajar edisi ini, kita akan bercerita mengenai miskonsepsi literasi sebagai upaya refleksi kolektif terhadap perjalanan kita menghidupkan literasi di ruang kelas, aktivitas sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Guru yang merdeka belajar adalah guru yang berani mengakui kekeliruan, keberanian yang akan mengantar pada keberanian yang lain, keberanian memperbaiki, keberanian untuk gagal terus hingga mencapai keberhasilan.

Apakah Anda sudah membicarakan miskonsepsi literasi bersama murid Anda? Bersama rekan guru di sekolah dan di Komunitas Guru Belajar? Bersama kepala sekolah atau dinas pendidikan? Bila belum, bergegaslah karena literasi bermakna akan segera menggerakkan negeri.