RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dibuat untuk tujuan sebgai alat bantu guru dalam mengajar. Bahkan ketika guru tersebut tidak masuk, guru lain dapat menggantikan guru yang bersangkutan untuk memberikan materi. RPP dibuat sangat spesifik, mulai dari kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, langkah - langkah pembelajaran, materi, hingga soal dan rubrik penilaian.
Satu Kompetensi Dasar biasanya bisa mencapai 5 hingga 20 lembar halaman, apalagi mata pelajaran - mata pelajaran yang materinya cukup banyak. Pertanyaannya....apakah ini efektif ?
Belum lagi peralihan dari KTSP ke Kurikulum 13, ada banyak lagi tambahan menu yang harus dibuat dalam satu RPP. Kira-kira, apakah RPP itu berpengaruh besar kepada siswa atau hanya sebagai syarat administrasi guru. Untuk syarat akredditasi misalnya, atau bukti fisik MONEV oleh pengawas. Karena fakta dilapangan , yang terjadi adalah penyimpangan dari RPP tersebut di dalam kelas.
Pembelajaran sangat kaku dan bersifat berpusat pada guru. Siswa tidak banyak diberi kesempatan untuk menentukan minat dan cara belajar yang mereka inginkan. Metode ceramah atau diskusi kadang dianggap kurang efektif. Siswa akan lebih tertarik ketika belajar sambil bermain , atau sambil membuat sebuah karya.
Diajak belajar diluar kelas, atau menggunakan berbagai video pembelajaran adalah metode yang sangat menyenangkan. Atau bisa juga dengan menggunkaan permainan - permainan yang bisa memudahkan guru dan menstranfer materi.
Sebelum membuat RPP, ada alat bantu berupa Kanvas Merdeka Belajar. Di dalam Kanvas Merdeka Belajar itu sendiri terdapat berbagai menu yang ditunjukkan untuk mengetahui kondisi siswa. Minat, Latar Belakang Keluarga, sampai dengan Profil siswa harus kita ketahui terlebih dahulu.
Bisa jadi pembelajaran di kelas menjadi gagal karena kita kurang memahami murid kita sendiri.
Bu, yang lagi hangat dibicarakan sekarang ini kan RPP satu lembar. Mungkin Ibu bisa memberikan sedikit penjelasan tentang itu ?
ReplyDeleteTerima kasih