Mengapa Indonesia dan sebagian besar bangsa yang baru merdeka lainnya
mengembangkan program pemberantasan buta huruf atau pengajaran
calistung?
Bayangkan Anda menjadi pimpinan sebuah negara yang 100% warganya masih
buta huruf. Bagaimana Anda menyampaikan pesan Anda pada jutaan warga
negara yang berada di berbagai daerah? Tidak ada jalan, Anda harus
bicara kepada semua warga negara. Bila hanya pada sebagian warga negara,
pesan Anda akan menyebar seperti gosip.
Jangankan sebuah negara. Dalam pelatihan, pesan yang disampaikan pada
orang paling depan lalu orang tersebut menyampaikan ke orang di
belakangnya hingga orang terakhir di suatu barisan. Apa pesan yang
dipahami oleh orang di barisan paling belakang? Sama sekali berbeda
dengan pesan yang disampaikan di awal. Ada distorsi, ada generalisasi,
ada hiperbola, ada dramatisasi. Kalai rantai informasi pada satu baris
bisa kacau seperti itu, lalu bagaimana bila terjadi pada suatu negara?
Kekacauan!
Itulah mengapa calistung menjadi program prioritas pada kebanyakan
bangsa yang baru merdeka. Calistung pada masanya adalah mesin penggerak
kehidupan sebuah bangsa, mesin konsumsi dan produksi pengetahuan.
Kemampuan calistung membuat orang per orang tidak tergantung sepenuhnya
pada komunikasi lisan. Calistung membuat orang bisa membaca panduan,
brosur, petunjuk dan buku untuk menjalankan mesin, mengoperasikan
birokrasi, atau menjalani kehidupan. Calistung membuat orang bisa
menuliskan pikirannya, menuangkan pengalamannya dan menggambarkan
impiannya untuk disampaikan pada banyak orang. Calistung membuat orang
berpikir sistematis, pasar bekerja, pengerjaan bangunan menjadi
simetris, penataan kebun menjadi rapi dan desain peralatan menjadi
presisi.
Calistung adalah bentuk awal literasi yang menggerakkan kehidupan negeri!
Tapi kehidupan tidak semudah dan seindah cerita pengantar tidur.
Belajar calistung bergerak cepat tapi dihentikan ketika akan memasuki
tahap calistung untuk belajar, calistung untuk mengubah kehidupan.
Sistem pendidikan mempersempit calistung sebatas sebagai aktivitas
konsumsi belaka, calistung untuk mengkonsumsi pengetahuan, tapi tidak
bergerak menjadi calistung untuk memproduksi pengetahuan. Orang
kehilangan arti penting calistung. Belajar calistung jadi kegiatan di
sekolah, lebih tepatnya kegiatan anak pada kelas kecil. Calistung
menjadi kegiatan wajib yang membosankan dan kering makna. Pada tingkat
global, pendidikan membaca kritis ala Paulo Freire diubah menjadi
pengajaran membaca yang mekanis.
Sampai sekitar 2 dekade yang lalu, kita mulai memasuki suatu zaman
yang memperkenalkan istilah literasi. Lahir kesadaran arti penting
literasi dalam kehidupan berbangsa. Kita telah berjalan sebagai negara
merdeka lebih dari 70 tahun, tapi tantangan yang kita hadapi tetaplah
sama: miskonsepsi literasi. Literasi sebagai tujuan, cara dan kegiatan
direduksi sebagai kegiatan membaca. Murid diminta aktif membaca di awal
pelajaran, tapi tidak mendapat tantangan yang memadai untuk menggali,
memikirkan dan mengemukakan pendapat. Literasi menjadi calistung yang
penting pada kelas kecil, sembari lupa bahwa literasi penting dan
berguna pada semua tahapan belajar, bahkan bagi pendidikan doktor.
Inilah ajakan bagi guru yang merdeka belajar untuk melek literasi tentang makna literasi itu sendiri.
Pada Temu Pendidik Nusantara 2018 dideklarasikan topik untuk TPN
tahun mendatang yaitu Literasi untuk Menggerakkan Negeri. Bukan hanya
paham atau mempraktikkan literasi, tapi menggagas literasi yang bisa
menggerakkan perubahan di negeri ini. Kita akan membahas literasi mulai
Januari ini hingga puncaknya pada Oktober 2019 pada saat Temu Pendidik
Nusantara 2019. Sebuah undangan yang menantang bagi guru belajar kan?
Saya mengundang segenap penggerak dan anggota Komunitas Guru Belajar
untuk bercerita tentang literasi. Pada Temu Pendidik Mingguan, Temu
Pendidik Sekolah, Temu Pendidik Daerah, dan Temu Pendidik Regional.
Pastikan Anda terlibat percakapan mengenai literasi pada lingkup
terdekat sebagai bekal yang akan kita ceritakan pada perjumpaan kita di
Temu Pendidik Nusantara 2019. Nanti kita cerita tentang literasi dari
berbagai penjuru nusantara.
Pada Surat Kabar Guru Belajar edisi ini, kita akan bercerita mengenai
miskonsepsi literasi sebagai upaya refleksi kolektif terhadap
perjalanan kita menghidupkan literasi di ruang kelas, aktivitas sekolah
maupun dalam kehidupan sehari-hari. Guru yang merdeka belajar adalah
guru yang berani mengakui kekeliruan, keberanian yang akan mengantar
pada keberanian yang lain, keberanian memperbaiki, keberanian untuk
gagal terus hingga mencapai keberhasilan.
Apakah Anda sudah membicarakan miskonsepsi literasi bersama murid
Anda? Bersama rekan guru di sekolah dan di Komunitas Guru Belajar?
Bersama kepala sekolah atau dinas pendidikan? Bila belum, bergegaslah
karena literasi bermakna akan segera menggerakkan negeri.
Tidak ada ketentuan umur , karena setiap anak memiliki tingkat kemampuan dan ketertarikan yg berbeda2. Ada yg sejak usia 2 tahun sudah mulai membaca. Yang penting kita tidak memaksakan anak untuk bisa membaca dan menulis di usia2 tertentu
Sebaiknya mulai umur berapa ya anak mulai dikenalkan baca tulis hitung ini ?
ReplyDeleteTidak ada ketentuan umur , karena setiap anak memiliki tingkat kemampuan dan ketertarikan yg berbeda2. Ada yg sejak usia 2 tahun sudah mulai membaca. Yang penting kita tidak memaksakan anak untuk bisa membaca dan menulis di usia2 tertentu
ReplyDelete