" Menulis dan Membaca adalah Hal Yang Luar Biasa"

Sunday, May 22, 2022

Koneksi Antar Materi Modul 3.1: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 Assalamu'alaikum....

Alhamdulillah kita sudah sampai di Modul 3.1 dengan materi Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.

Dalam tugas ini ada 10 pertanyaan yang akan saya jawab satu per satu.

1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengharuh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil ?

Filosofi Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktik baik kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap guru seyogyanya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.

Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik.

Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi social emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :

: Tujuan

: Identifikasi

: Rencana aksi

TA: Tanggung jawab


 

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menjembatani perbedaan minat dan gaya belajar murid di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Jawaban saya yaitu iya, kesulitan muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Diantaranya adalah sistem yang kadang jika memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid. Yang kedua tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan Bersama. Yang ketiga keputusan yang diambil kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan.

8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Menurut pendapat saya, semua tergantung kepada keputusan seperti apa yang diambil, apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini tentang metode yang digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, dalam hal metode, media, penilaian dan lain sebagainya maka kemerdekaan belajar murid hanya sebuah omong kosong belaka dan tentunya murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan kondratnya.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.

Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan dating. Demikian sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimplan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah :

Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.

Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).

Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.

Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

 

Demikian koneksi antar materi modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, semoga bermanfaat.

Wednesday, January 26, 2022

Peran Guru Penggerak Dalam Menerapkan Budaya Positif

 

Sebagai Calon Guru Penggerak  kami berfikiran Budaya positif bukanlah satu-satunya materi yang perlu diterapkan dalam pendidikan di sekolah. Kita perlu juga mengingat dan mengaitkan materi-materi yang sudah kita pelajari sebelumnya agar penerapan di ekosistem belajar. Hubungan guru dan murid adalah factor penting dalam membangun budaya positif disekolah. Apakah budaya positif di sekolah berdiri sendiri dalam menciptakan budaya ajar yang baik?. Bagaimana penerapan budaya positif jika dikaitkan dengan nilai lain dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari?. Bagian mana dari modul sebelumnya yang berkaitan dan mendukung budaya positif?. Bagaimana peran guru penggerak menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah?. Bagaimana guru penggerak bisa menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif sekolah dan menjadi visi sekolah?.

Berdasarkan filosofi ki hajar dewantara Tidak ada keabadian dalam kehidupan manusia dan lingkungannya. Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka. Maka, Ki Hadjar menekankan arti penting memperhatikan kodrat alam dalam diri anak semasa pendidikan. Artinya Pendidikan itu sudah setua usia manusia ketika manusia mulai bertahan hidup dan mempertahankan hidup dengan membangun peradabannya. Mendidik anak itu sama dengan mendidik masyarakat karena anak itu bagian dari masyarakat. Mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan anak untuk berkehidupan lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti mendidik bangsa.

Menurut Ki Hadjar, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat. Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu, kemerdekaan menjadi isu kritis dalam Pendidikan karena menyangkut usaha untuk memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu untuk terwujudnya tujuan pendidikan tersebut diperlukan profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME. kebhinekaan global, bergotong royong, kratif, bernalar positif, dan mandiri. Kita sebagai pendidik harus mengetahui posisi control guru yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid semua aspek tersebut harus dimiliki oleh seorang guru terutama calon guru penggerak.

Selama ini hukuman merupakan bentuk pembelajaran disiplin bagi murid bagi seorang guru, padahal hukuman menmpunyai arti berbeda. Hukuman adalah sebuah cara untuk mengarahkan sebuah tingkah laku agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku Secara umum hukuman dalam hukum adalah sanksi fisik maupun psikis untuk kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan yang berpengaruh untuk karakter peserta didik dan tidak bagus untuk psikologis anak. Disiplin Positif adalah sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid untuk menjadi pribadi dan anggota dari komunitas yang bertanggung jawab, penuh hormat, dan kritis. Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan kehidupan yang penting dengan cara yang sangat menghormati dan membesarkan hati, tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru, penyedia penitipan anak, pekerja muda, dan lainnya).

Disiplin positif bertujuan untuk bekerja sama dengan siswa dan tidak menentang mereka. Penekanannya adalah membangun kekuatan peserta didik daripada mengkritik kelemahan mereka dan menggunakan penguatan positif (positive reinforcement) untuk mempromosikan perilaku yang baik. Hal ini melibatkan memberikan siswa-siswi pedoman yang jelas untuk perilaku apa yang dapat diterima dan kemudian mendukung mereka ketika mereka belajar untuk mematuhi pedoman ini. Pendekatan ini secara aktif mempromosikan partisipasi anak dan penyelesaian masalah dan di saat yang bersamaan juga mendorong orang dewasa, dalam hal ini yaitu pendidik, untuk menjadi panutan positif bagi anak-anak muda dalam perjalanan tumbuh kembang mereka.

Upaya untuk membangun budaya positif disekolah guru harus bekerja sama dengan kepala sekolah serta orang tua yaitu dengan sebagai guru harus memiliki peran kunci dalam pengembangan disiplin positif dengan menciptakan ruang kelas yang berpusat pada peserta didik, Melibatkan dan bekerjasama dengan orangtua dalam penerapan disiplin positif. Kepala sekolah harus memastikan para guru dan staf mendapatkan dukungan dalam menerapkan disiplin positif di sekolah serta Mendukung dan mengawasi keterlibatan orangtua dalam menerapkan disiplin positif. Dan orang tua menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman sehingga dapat menerapkan disiplin positif yang konsisten dan berpartisipasi dalam pertemuan sekolah dan memiliki hubungan baik dengan guru untuk mendukung pendekatan disiplin positif

Oleh karena itu diperlukan guru harus sebagai manager dalam menerapkan budaya positif disekolah. Budaya positif dikelas bisa dikembangkan dengan membuat kesepakatan kelas dimana langkah-langkahnya sudah disebutkan di Demonstrasi Kontekstual – Menerapkan Budaya Positif Rencana pengembangan diri.

Sunday, January 5, 2020

BELAJAR MENULIS ARTIKEL ILMIAH

Tulisan Ilmiah Populer adalah tulisan Ilmiah yang dipublikasikan di media massa ( Koran, Majalah, atau sejenisnya,

Tulisan Ilmiah Populer dalam kaitan dengan upaya pengembangan profesi guru merupakan tulisan yang lebih banyak mengandung isi pengetahuan, berupa ide, atau gagasan pengalaman penulis yang menyangkut bidangnya.

Kerangka isi tulisan ilmiah populer disesuaikan dengan persyaratan atau kelaziman dari media massa yang akan mempublikasikan tulisan tersebut.

Dalam teori jurnalistik, produk media massa terbagi menjadi 3 bagian :
  1. Berita ( news )
  2. Opini ( view )
  3. Iklan ( Advertising )
Berita ditulis berdasarkan situasi atau peristiwa yang apa adanya berdasarkan fakta.
Setiap fakta berarti harus objektif

Opini yaitu pandanngan penulis, maka apapun yang ada dalam views bersifat subjektif, begitu juga dengan feature.

Sedangkan, iklan merupakan penawaran suatu produk atau jasa kepada masyarakat dengan ragam bahasa lebih memikat. Biasanya iklan komersial, sosial dan keluarga.

Karakter Artikel :
  1. Logis : segala keterangan yang dipaparkan
  2. Lugas : tulisan langsung menuju persoalan
  3. Harus memiliki dasar dan alasan yang masuk akal dan dapat diuji kebenarannya
  4. Tuntas : masalah atau tema yang dipilih dipaparkan secara mendalam dan tidak menggantung
  5. Objektif : keterangan yang disajikan sesuai dengan data dan fakta yang ada
  6. Cermat : berusaha menghindari berbagai kekeliruan walau sekecil apapun
  7. Jelas dan Padat : keterangan mudah dipahami.
  8. Tidak melibatkan emosi yang berlebihan
  9. Menggunakan bahasa baku dan memperhatikan tanda baca 
Ciri - ciri Artikel :
  • Ditulis berdasarakn pandangan penulis
  • Mengandung gagasan aktual
  • Intelektual
  • Orisinalitas
  • Mengungkapkan suatu masalah dan memberikan solusinya
  • Singkat, padat dan tuntas
  • Bahasa sederhana, jelas, hidup, menarik, dan komunikatif
  • Menyangkut kepentingan publik
  • Ditulis dengan atas nama ( by line story ) 


Qiusioner Merdeka Belajar

Friday, January 3, 2020

RPP MERDEKA BELAJAR

RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dibuat untuk tujuan sebgai alat bantu guru dalam mengajar. Bahkan ketika guru tersebut tidak masuk, guru lain dapat menggantikan guru yang bersangkutan untuk memberikan materi. RPP dibuat sangat spesifik, mulai dari kompetensi dasar,  tujuan pembelajaran, langkah - langkah pembelajaran, materi, hingga soal dan rubrik penilaian.
Satu Kompetensi Dasar biasanya bisa mencapai 5 hingga 20 lembar halaman, apalagi mata pelajaran - mata pelajaran yang materinya cukup banyak. Pertanyaannya....apakah ini efektif ?

Belum lagi peralihan dari KTSP ke Kurikulum 13, ada banyak lagi tambahan menu yang harus dibuat dalam satu RPP. Kira-kira, apakah RPP itu berpengaruh besar kepada siswa atau hanya sebagai syarat administrasi guru. Untuk syarat akredditasi misalnya, atau bukti fisik MONEV oleh pengawas. Karena fakta dilapangan , yang terjadi adalah penyimpangan dari RPP tersebut di dalam kelas.

Pembelajaran sangat kaku dan bersifat berpusat pada guru. Siswa tidak banyak diberi kesempatan untuk menentukan minat dan cara belajar yang mereka inginkan. Metode ceramah atau diskusi kadang dianggap kurang efektif. Siswa akan lebih tertarik ketika belajar sambil bermain , atau sambil membuat sebuah karya. 

Diajak belajar diluar kelas, atau menggunakan berbagai video pembelajaran adalah metode yang sangat menyenangkan. Atau bisa juga dengan menggunkaan permainan - permainan yang bisa memudahkan guru dan menstranfer materi.

Sebelum membuat RPP, ada alat bantu berupa Kanvas Merdeka Belajar. Di dalam Kanvas Merdeka Belajar itu sendiri terdapat berbagai menu yang ditunjukkan untuk mengetahui kondisi siswa. Minat, Latar Belakang Keluarga, sampai dengan Profil siswa harus kita ketahui terlebih dahulu.
Bisa jadi pembelajaran di kelas menjadi gagal karena kita kurang memahami murid kita sendiri.




Wednesday, January 1, 2020

LITERASI MENGGERAKKAN NEGERI

Mengapa Indonesia dan sebagian besar bangsa yang baru merdeka lainnya mengembangkan program pemberantasan buta huruf atau pengajaran calistung?

Bayangkan Anda menjadi pimpinan sebuah negara yang 100% warganya masih buta huruf. Bagaimana Anda menyampaikan pesan Anda pada jutaan warga negara yang berada di berbagai daerah? Tidak ada jalan, Anda harus bicara kepada semua warga negara. Bila hanya pada sebagian warga negara, pesan Anda akan menyebar seperti gosip.

Jangankan sebuah negara. Dalam pelatihan, pesan yang disampaikan pada orang paling depan lalu orang tersebut menyampaikan ke orang di belakangnya hingga orang terakhir di suatu barisan. Apa pesan yang dipahami oleh orang di barisan paling belakang? Sama sekali berbeda dengan pesan yang disampaikan di awal. Ada distorsi, ada generalisasi, ada hiperbola, ada dramatisasi. Kalai rantai informasi pada satu baris bisa kacau seperti itu, lalu bagaimana bila terjadi pada suatu negara? Kekacauan!

Itulah mengapa calistung menjadi program prioritas pada kebanyakan bangsa yang baru merdeka. Calistung pada masanya adalah mesin penggerak kehidupan sebuah bangsa, mesin konsumsi dan produksi pengetahuan. Kemampuan calistung membuat orang per orang tidak tergantung sepenuhnya pada komunikasi lisan. Calistung membuat orang bisa membaca panduan, brosur, petunjuk dan buku untuk menjalankan mesin, mengoperasikan birokrasi, atau menjalani kehidupan. Calistung membuat orang bisa menuliskan pikirannya, menuangkan pengalamannya dan menggambarkan impiannya untuk disampaikan pada banyak orang. Calistung membuat orang berpikir sistematis, pasar bekerja, pengerjaan bangunan menjadi simetris, penataan kebun menjadi rapi dan desain peralatan menjadi presisi.

Calistung adalah bentuk awal literasi yang menggerakkan kehidupan negeri!
Tapi kehidupan tidak semudah dan seindah cerita pengantar tidur. Belajar calistung bergerak cepat tapi dihentikan ketika akan memasuki tahap calistung untuk belajar, calistung untuk mengubah kehidupan. Sistem pendidikan mempersempit calistung sebatas sebagai aktivitas konsumsi belaka, calistung untuk mengkonsumsi pengetahuan, tapi tidak bergerak menjadi calistung untuk memproduksi pengetahuan. Orang kehilangan arti penting calistung. Belajar calistung jadi kegiatan di sekolah, lebih tepatnya kegiatan anak pada kelas kecil. Calistung menjadi kegiatan wajib yang membosankan dan kering makna. Pada tingkat global, pendidikan membaca kritis ala Paulo Freire diubah menjadi pengajaran membaca yang mekanis.

Sampai sekitar 2 dekade yang lalu, kita mulai memasuki suatu zaman yang memperkenalkan istilah literasi. Lahir kesadaran arti penting literasi dalam kehidupan berbangsa. Kita telah berjalan sebagai negara merdeka lebih dari 70 tahun, tapi tantangan yang kita hadapi tetaplah sama: miskonsepsi literasi. Literasi sebagai tujuan, cara dan kegiatan direduksi sebagai kegiatan membaca. Murid diminta aktif membaca di awal pelajaran, tapi tidak mendapat tantangan yang memadai untuk menggali, memikirkan dan mengemukakan pendapat. Literasi menjadi calistung yang penting pada kelas kecil, sembari lupa bahwa literasi penting dan berguna pada semua tahapan belajar, bahkan bagi pendidikan doktor.

Inilah ajakan bagi guru yang merdeka belajar untuk melek literasi tentang makna literasi itu sendiri.
Pada Temu Pendidik Nusantara 2018 dideklarasikan topik untuk TPN tahun mendatang yaitu Literasi untuk Menggerakkan Negeri. Bukan hanya paham atau mempraktikkan literasi, tapi menggagas literasi yang bisa menggerakkan perubahan di negeri ini. Kita akan membahas literasi mulai Januari ini hingga puncaknya pada Oktober 2019 pada saat Temu Pendidik Nusantara 2019. Sebuah undangan yang menantang bagi guru belajar kan?

Saya mengundang segenap penggerak dan anggota Komunitas Guru Belajar untuk bercerita tentang literasi. Pada Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Sekolah, Temu Pendidik Daerah, dan Temu Pendidik Regional. Pastikan Anda terlibat percakapan mengenai literasi pada lingkup terdekat sebagai bekal yang akan kita ceritakan pada perjumpaan kita di Temu Pendidik Nusantara 2019. Nanti kita cerita tentang literasi dari berbagai penjuru nusantara.
Pada Surat Kabar Guru Belajar edisi ini, kita akan bercerita mengenai miskonsepsi literasi sebagai upaya refleksi kolektif terhadap perjalanan kita menghidupkan literasi di ruang kelas, aktivitas sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Guru yang merdeka belajar adalah guru yang berani mengakui kekeliruan, keberanian yang akan mengantar pada keberanian yang lain, keberanian memperbaiki, keberanian untuk gagal terus hingga mencapai keberhasilan.

Apakah Anda sudah membicarakan miskonsepsi literasi bersama murid Anda? Bersama rekan guru di sekolah dan di Komunitas Guru Belajar? Bersama kepala sekolah atau dinas pendidikan? Bila belum, bergegaslah karena literasi bermakna akan segera menggerakkan negeri.



Friday, December 27, 2019

MERDEKA BELAJAR

Dua Dimensi Kebijakan #Merdeka Belajar

#MerdekaBelajar sebagai konsep pendidikan

Spirit kemerdekaan dalam pendidikan Indonesia dicetuskan pertama kali oleh Ki Hadjar Dewantara.
".....kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap acaranya anak-anak berfikir, yaitu jangan selalu " dipelopori" atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain. (1952)"

Konsep merdeka belajar sebenarnya konsep lama, sudah dikaji baik di luar negeri maupun di Indonesia. pada waktu lampau, dunia pendidikan termasuk di Kampus Guru Cikal mengenalnya sebagai pembelajaran mandiri sebagai terjemahan dari konsep self regulated learning.

Namun refleksi kami menemukan bahwa istilah pembelajaran mandiri tidak tepat secara konsep dan diplesetkan secara praktik. Miskonsepsi Self Regulated Learning tersebut harus dipatahkan , baik secara konsep maupun praktik. Secara konsep, kami mengkaji ulang konsep self regulated learning dengan mempelajari 3 dimensinya yaitu komitmen pada tujuan, mandiri pada cara dan refleksi. pada titik ini, kami bersepakat untuk menggunakan istilah Merdeka Belajar, sebagai pengganti istilah Pembelajaran Mandiri.

Merdeka Belajar menggambarkan 3 hal, 1) menetapkan tujuan belajar sesuai kebutuhan, minat dan aspirasinya, bukan karena di dikte pihak lain, 2) menentukan prioritas, cara dan ritme belajar, termasuk beradaptasi dengan cara baru yang lebih efektif, 3) melakukan refleksi diri untuk menentukan mana tujuan dan cara belajar yang sudah efektif dan mana yang harus diperbaiki.

Merdeka bukan berarti bebas ( freedom ) , tapi kemerdekaan ( Independence ) mengarahkan tujuan, cara dan penilaian belajar. Sebagaimana negara merdeka, guru merdeka belajar berarti menentukan tujuan, mencari cara dan melakukan rfeleksi secara berkala.

#MerdekaBelajar sebagai Strategi Perubahan Pendidikan Indonesia

Setidaknya dalam 20 tahun terakhir, pendekatan untuk pengelolaan pendidikan berlawanan dengan strategi pembangunan nasional yang menekankan pada otonomi. Pendidikan dikelola dengan kontrol yang ketat. Pemerintah menjadi pemain utama menjalankan hampir semua peran; penentu arah, pembuat kebijakan, pelaksana dan pengawas.

Alat - alat kontrol dibuat untuk mengendalikan perilaku pendidikan mulai Ujian Nasional, Ujian Sekolah Berstandar Nasional, 8 Standar Pendidikan, KKM, RPP, dan yang lainnya. Alat kontrol yang seringkali tidak berkaitan secara esensial dengan kualitas pengajaran di kelas.

Pada kenyataannya, semakin ketat pengendalian bukannya membuat perilaku yang tertib, tapi melahirkan praktik-praktik yang menyimpang. Kualitas capaian belajar mengalami penurunan ( hasil riset SMeru,PISA maupun nilai UN ) dalam 20 tahun terkahir.

Kebijakan #MerdekaBelajar Menteri Nadiem membalikkan arah kebijakan pendidikan. Dari semula dikendalikan pemerintah menjadi pembagian peran antara pemerintah dengan pelaku pendidikan yang lain. Ada hal esensial yang tetap dikunci, ada ruang yang dibuka untuk inisiatif guru, sekolah dan daerah. Misal poin esensial dari RPP dikunci yaitu 3 hal : Tujuan, Kegiatan Pembelajaran dan Penilaian. Namun dibuka ruang bagi guru dan sekolah memilih dan membuat sendiri detailnya.

Perubahan arah kebijakan ini tentu butuh penyikapan berbeda dari guru, sekolah dan daerah.

Dulu : Menunggu Jukni
Sekarang : Inisiatif Belajar Mandiri

Dulu : Patuh dan Taat
Sekarang : Mencari cara mencapai tujuan

Dulu : 100% berubah
Sekarang : Berubah bertahap

Jadi...apakah kita sudah siap menghadapi kebijakan #MerdekaBelajar ?


Wednesday, December 25, 2019

ABOUT ME

Haiiii.......!!!
Salam kenal untuk semuanya.
Selamat datang di Blog kami, yang pastinya akan berisi tentang berbagai info yang unik dan menarik. Dengan berbagai perjalanan panjang dan begitu banyak peristiwa yang sangat disayangkan untuk dilewatkan begitu sajua, akhirnya penulis akan mencurahkan segalanya melalui Blog ini.

Penulis bukanlah seorang sastrawan atau ilmuwan, kegiatan sehari-harinya adalah sebagai pengajar di salah satu SMP di Wonogiri, tepatnya di SMP N 3 Jatisrono. Latar belakang penulis juga bukan dari bidang sastra, melaikna dari Sarjana Teknik Informatika.

Penulis kelahiran Yogyakarta yang besar di kota Jakarta, tetapi sekarang mengabdikan diri di sebuah desa kecil di kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri. Dengan kondisi seperti ini, ada banyak yang dialami oleh penulis, mulai dari penyesuaian tempat tinggal sampai penyesuaian makanan khas.

Waahh.....menarik sekali bukan untuk diikuti !!??

ditunggu pesan , kesan dan masukannya yaaa....